Kamis, September 17, 2009

Beberapa pengertian belajar

Beberapa pengertian belajar dari para ahli dalam negeri:
  • Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.
  • Menurut Thursan Hakim, belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan.
  • Menurut Slameto, belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
  • M. Sobry Sutikno mengemukakan, belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Beberapa pengertian belajar dari para ahli luar negeri:
  • Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
  • Crow & Crow dan (1958) : “ belajar adalah diperolehnya kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru”.
  • Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu perilaku muncul perilaku muncul atau berubah karena adanya respons terhadap sesuatu situasi”
  • Di Vesta dan Thompson (1970) : “ belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman”.
  • Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang yang muncul karena pengalaman"
  • Menurut Skinner yang di kutip oleh Dimyati dan Mudjiono dalam bukunya yang berjudul Belajar dan pembelajaran, bahwa belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respons yang tercipta melalui proses tingkah laku.
  • R. Gagne seperti memberikan dua definisi belajar, yaitu:
    1. Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku.
    2. Belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang diperoleh dari instruksi.
  • Menurut Hilgard dan Bower dalam bukunya Theories of Learning belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam suatu situasi.
ini dapusnya!!!!
http://indramunawar.blogspot.com/2009/06/pengertian-belajar.html
http://cafestudi061.wordpress.com/2008/09/11/pengertian-belajar-dan-perubahan-perilaku-dalam-belajar/

Kamis, Juni 19, 2008

Skoring and Konversi Nilai

sKORING?? ^O^ sUSAH NGAK SIH??

Pada dasarnya penskoran atau pemberian skor adalah adalah suatu proses pengubahan jawaban instrumen menjadi angka-angka yang merupakan nilai kuantitatif dari suatu jawaban terhadap item dalam instrumen (Djaali & Muljono, 2004). Jadi bisa dikatakan skoring adalah kegiatan memberi angka berdasarkan jawaban-jawaban siswa terhadap tes yang diberikan. Dalam proses penskoran, kita bisa menggunakan bberapa alat Bantu antara lain, kunci jawaban, yaitu deretan jawaban yang kita persiapkan untuk pertanyaan atau soal-soal yang kita buat, kunci skoring, yaitu alat yang digunakan untuk mempercepat pekerjaan skoring, dan pedoman penilaian, yaitu alat untuk membantu menentukan angka.

Penskoringan untuk tes subyektif dan tes obyektif agak sedikit berbeda. Yang membedakan adalah jika bentuknya uraian dan sejenisnya, setiap butir tidak hanya dapat dijawab benar atau salah penuh, tetapi juga dapat dijawab setengah benar atau seperempat benar. Sedangkan pada tes bentuk objektif dan sejenisnya setiap butirnya hanya dapat bernilai benar atau salah. Berikut ini adalah rumus skoring untuk tipe soal pilihan ganda dan benar salah

Benar Salah

Dalam menentukan skor untuk tes bentuk ini, dapat digunakan dua cara yaitu :

a. Tanpa hukuman/penalti, apabila banyaknya angka yang diperoleh siswa sebanyak jawaban yang cocok dengan kunci.

b. Dengan hukuman/penalti, hal ini digunakan apabila diragukan adanya unsur tebakan.

S = R – W atau S = T - 2W

Dimana :

T : Jumlah soal dalam tes

S : Skor

R : Right (jumlah benar)

W : Wrong (jumlah salah)

Pilihan Ganda

Sama halnya dengan cara menskor tes benar salah, tes pilihan gandapun demikan. Dalam menskor tes yang tanpa penalti, kita langsung aja menjumlahkan soal-soal yang dijawab benar oleh siswa, sedangkan untuk menskor yang dengan penalti adalah sebagai berikut :

S = R – W/(n - 1)

Dimana :

S : Skor

R : Right

W : Wrong

N : banyaknya pilihan jawaban

kONVERSI nILAI? aPA ITU…??

Konversi nilai adalah kegiatan mengubah atau mengolahskor mentah menjadi huruf. Jika tidak ada kegiatan konversi ini, maka nilai tidak bisa dinterpretasikan. Konversi nilai dapat dilakukan dengan menggunakan Mean dan SD atau dikenal juga dengan batas lulus Mean (Mean = SD). Cara yang kedua adalah dengan Mean Ideal dan SD Ideal atau Remmers.

Untuk cara pertama, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari nilai Mean dan SD, kemudian menentukan besarnya SUD (Skala Unit Deviasi), dan langkah terakhir adalah menentukan batas atas dan batas bawah. Untuk menentukan batas atas dan batas bawah tersebut, rumusnya adalah sebagai berikut:


Batas bawah C = M – 0,5 SUD

Batas bawah D = M – 1,5 SUD

Batas atas C = M + 0,5 SUD

Batas atas B = M + 1,5 SUD


Sedangkan untuk cara kedua, langkah pertama adalah mencari Mean Ideal dengan cara membagi dua skor maksimal. Langkah kedua adalah mencari SD Ideal yang besarnya sama dengan 1/3 Mean Ideal. Berikutnya adalah menentukan batas kelulusan yang besarnya merupakan penjumlahan dari Mean Ideal ditambah dengan ¼ SD Ideal. Yang berikutnya adalah mencari besar SUD. Terakhir, tentukan batas atas dan batas bawahnya dengan rumus berikut:

Batas atas D = M + 1 SUD

Batas atas C = M + 2 SUD

Batas atas B = M + 3 SUD

Untuk Remmers, Rumusnya adalah sebagai berikut:

A ³ M + 1.5 SD

B = M + 0.5 SD – M + 1.49 SD

C = M - 0.5 SD – M + 0.49 SD

D = M - 1.5 SD – M - 0.51 SD

E £ M – 1.51 SD

Tambahan!!!

Untuk menentukan SUD, antara cara pertama dan kedua ada sedikit perbedaan. Untuk cara pertama besarnya SUD adalah 6/4 SD. sedangkan pada cara kedua, besar SUD adalah 3/4 SD.

pap DAN pan APA BEDANYA???

PAP (Penilaian aturan patokan) adalah sistim penilaian yang sifatnya mutlak dan menggunakan batas lulus proporsif. Selain itu, PAP mengacu kepada suatu kriteria pencapaian tujuan instruksional yang sudah ditetapkan sebelumnya. Sedangkan PAN (Penilaian aturan norma), sifatnya relatif dan biasanya menggunakan batas lulus ideal dan actual. Sistem penilaian ini mengacu kepada norma kelompok, kemudian nilai – nilai yang diperoleh siswa dibandingkan dengan nilai – nilai siswa yang lain yang termasuk kedalam kelompok itu